Mewujudkan Student Agency Melalui Pengelolaan Program Pelatihan Google Workspace for Education
Kepemimpinan Murid
Pada
dasarnya murid sebagai seorang individu tidak hanya mampu menjalankan setiap
permintaan atau instruksi yang diberikan oleh guru mereka. Sebagai makhluk yang
sama dengan guru, murid tentu dapat melakukan sesuatu yang bahkan lebih dari
sekadar instruksi yang diberikan oleh guru. Dalam konteks ini, murid secara
alami mampu memainkan berbagai peran dalam kehidupan kesehariannya. Secar naluri
murid bisa menjadi pengamat, penanya, penjelajah, inisiator, eksekutor,
evaluator dan sebagainya.
Semua
itu tergantung dari peran dan porsi yang diberikan guru kepada mereka. Untuk
memahami hal tersebut, guru tentu harus mampu melihat murid dari sudut pandang
yang lain. Guru harus mampu melihat dari sudut pandang yang tidak biasa. Memahami
filosofi pendidikan, memahami karakter, memahami kebutuhan, memahami kodrat dan
memahami gaya serta minat murid adalah sederetan pengetahuan yang mestinya mampu
dipahami secara holistik oleh guru.
Guru
yang mampu memahami secara keseluruhan terhadap hal tersebut tentu akan mampu
memperlakukan dan menempatkan murid sesuai dengan apa, siapa, kapan dan dimana
mereka harus berada dan memainkan peran yang diembankan baginya. Untuk menjadi
seorang guru yang mampu memahami secara holistik hal dimaksud membutuhkan
sebuah ruang untuk membuka diri. Membuka diri terhadap apa, siapa dan bagaimana
memainkan perannya pada tempat dan situasi yang tepat. Guru yang demikian tentu
akan selalu memperbaharui dirinya agar bisa memahami tujuan mulia pendidikan.
Tujuan pendidikan merdeka belajar adalah
tercapainya profil pelajar Pancasila. Profil Pelajar Pancasila dimaksud adalah
pelajar sepanjang hayat
yang kompeten, berkarakter, dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila. Nilai-nilai
profil Pelajar Pancasila yang diharapkan tumbuh dan berkembang adalah 1) Beriman
dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia, 2) Berkhibenakaan
Global, 3) Mandiri, 4) Bergotong royong,
5) Bernalar kritis dan 6) Kreatif.
Salah satu hal yang
dapat mencapai nilai-nilai profil Pelajar Pancasila adalah pengelolaan sebuah
program atau kegiatan yang berdampak pada kepemimpinan murid (Student
Agency). Students agency merupakan kapasitas
seseorang untuk mempengaruhi fungsi dirinya dan arah jalannya sebuah peristiwa
melalui Tindakan yang dibuatnya. Murid sebagai agency akan mampu mengarahkan
pembelajarannya sendiri, menyuarakan pendapatnya (Voice), membuat
pilihan-pilihan (Choice), berpartisipasi dan berkontribusi pada komunitas
belajar, mengkomunikasikan pemahaman belajarnya, dan melakukan aksi nyata
sebagai hasil dari proses belajar (Ownership).
Guru dalam merancang
sebuah kegiatan atau program mestinya melibatkan murid. Murid diberikan
kesempatan untuk menyuarakan pendapatnya, murid menyampaikan pilihannya dan
murid menyadari kegiatan atau program yang dirancang membutuhkan keterlibatannya
secara penuh dan merasa memiliki program yang dirancang. Guru pada situasi ini
adalah guru yang menempatkan murid sebagai mitra bukan sebagai pesuruh. Guru
yang menempatkan murid sebagai mitra tentunya secara aktif mendengarkan,
menghormati dan menanggapi ide, pendapat, pertanyaan dan aspirasi murid. Memperhatikan
kemampuan, kebutuhan, dan minat murid, memastikan proses pembelajaran sesuai,
mendorong eksplorasi minat, mendorong kesempatan untuk menunjukan kreativitas
murid adalah ciri lain dari seorang guru yang menempatkan murid sebagai mitra.
Faktor Pendukung Kepemimpinan
Murid
Selain guru yang
merupakan modal manusia dalam memberdayakan kepemimpinan murid, lingkungan juga
memiliki peran penting dalam mewujudkan kepemimpinan murid (Student Agency).
Sebagaimana filosofi Ki Hadjar Dewantara yang mengandaikan murid seperti
tanaman padi, maka lingkungan atau lahan yang subur tentu akan memberikan
kesempatan kepada murid untuk bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.
Menurut Noble Noble, T.
dan H. Mcgranth, 2016 ada tujuh (7) karakter lingkungan yang dapat menumbuhkembangkan
kepemimpinan murid, yaitu:
- Lingkungan
yang menyediakan kesempatan untuk murid menggunakan pola pikir positif dan
merasakan emosi yang positif, hingga berkemampuan dan berkeinginan untuk
memberikan pengaruh positif kepada kehidupan orang lain dan sekelilingnya.
- Lingkungan
yang mengembangkan keterampilan berinteraksi sosial secara positif, arif dan
bijaksana.
- Lingkungan
yang melatih keterampilan yang dibutuhkan murid dalam proses pencapaian tujuan
akademik maupun non-akademiknya.
- Lingkungan
yang melatih murid untuk menerima dan memahami kekuatan diri, sesama, serta
masyarakat dan lingkungan di sekitarnya.
- Lingkungan
yang membuka wawasan murid agar dapat menentukan dan menindaklanjuti tujuan,
harapan atau mimpi yang manfaat dan kebaikannya melampaui pemenuhan kepentingan
individu, kelompok, maupun golongan.
- Lingkungan
tersebut berkomitmen untuk menempatkan murid sedemikian rupa sehingga aktif
menentukan proses belajarnya sendiri.
- Lingkungan
tersebut menumbuhkan daya lenting dan sikap tangguh murid untuk terus bangkit
di tengah kesempitan dan kesulitan.
Selain lingkungan, faktor lain yang dapat menumbuhkembangkan kepemimpinan murid yakni keterlibatan komunitas. Komunitas merupakan salah satu kekuatan atau asset yang dapat menunjang kepemimpinan murid. Komunitas merupakan asset sosial yang menjadi kekuatan penunjang dalam pembelajaran dan kepemimpinan murid. Beberapa asset komunitas yang dapat menjadi kekuatan dalam menunjang program berdampak pada murid sebagaimana Ki Hadjar Dewantara menyebutnya “tri sentra pendidikan” yaitu: (1) Komunitas keluarga, (2) Komunitas sekolah dan (3) Komunitas masyarakat. Komunitas sekolah antara lain komunitas kelas, komunitas antarkelas, komunitas kegiatan ekstrakurikuler, komunitas intarkurikuler dan atau komunitas ko-kurikuler. Sedangkan komunitas masyarakat bisa berupa komunitas masyarakat sekitar sekolah, komunitas lebih luas, seperti: Media, Dunia usaha, Pemerintah, DPRD, Universitas, Organisasi masyarakat dan sebagainya.
Pelatihan Google Workspace
for Education Bagi Guru dan Pegawai SMAN 1 Satarmese
a. Latar belakang kegiatan
Kegiatan ini terselenggara sebagai bentuk kepedulian
penulis dalam mengejawantahkan program Kementrian dimana, Pemerintah melalui Kementrian
Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi telah
meluncurkan akun belajar.id, dimana dalam akun yang terintegrasi dengan Google
memiliki keunggulan dan dilengkapi dengan fasilitas berupa fitur-fitur yang
dapat menunjang guru dan pegawai di satuan pendidikan untuk melakukan inovasi
dan kreasi dalam proses pembelajaran. Kedua, melalui sebuah Refleksi
pembelajaran daring penulis bersama murid di kelas XI MIA 1 pada Selasa, 15
Maret 2022 dan XI MIA 2 pada Rabu, 16 Maret 2022 ditemukan bahwa murid selama
ini belum pernah melakukan pembelajaran daring (online) dengan pemanfaatan beberapa fitur dalam akun belajar.id. Penulis lewat fitur jamboard menemukan perasaan,
pengalaman dan curahan hati anak murid.
Dari curahan anak murid, dimana ada beberapa diantaranya
adalah anggota komunitas ekstrakurikuler Jurnalistik berdiskusi, menyampaikan
pendapat, mengajukan pilihan dan keinginan mereka agar para guru yang lain
melakukan hal yang sama dalam pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi yang
ada.
Dengan keyakinan karakter lingkungan yang membuka wawasan
murid agar dapat menentukan dan menindaklanjuti tujuan, harapan atau mimpi yang
manfaat dan kebaikannya melampaui pemenuhan kepentingan individu, kelompok,
maupun golongan, anak murid yang tergabung dalam komunitas ekstrakurikuler
Jurnalistik mencoba memanfaatkan asset yang ada di dalam sekolah yakni
Chromebook, router, PC dan laptop serta asset luar sekolah berupa Modal manusia
(guru yang berkompeten dalam pemanfaatan teknologi) menjadi narasumber untuk
memberikan pelatihan kepada para guru dan pegawai.
Dari pengamatan dan pengalaman anak murid terutama selama
pembelajaran dari rumah, nampak bahwa para guru tidak memiliki kemampauan dan
keterbatasan dalam pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, sehingga
pembelajaran yang seharusnya bisa dilakukan lewat virtual tidak bisa dilakukan.
Dengan demikian sesuai dengan permintaan anak murid kami secara bersama mencoba
merumuskan sebuah kegiatan yang dapat memfasilitasi guru untuk bisa mendapatkan
pelatihan pemanfaatan teknologi dalam mendesain pembelajaran. Judul kegiatannya
aadalah “PELATIHAN GOOGLE WORKSPACE FOR EDUCATION BAGI GURU DAN PEGAWAI SMA
NEGERI 1 SATARMESE”.
b.
Tujuan Kegiatan
Adapun tujuan dari kegiatan Pelatihan Google Workspace
For Education Bagi Guru Dan Pegawai Sma Negeri 1 Satarmese adalah sebagai
berikut:
- Memberikan pelatihan kepada para guru dan
pegawai SMA Negeri 1 Satarmese tentang penggunaan teknologi dalam pembelajaran
dengan pemanfaatan Google Workspace for Education melalui akun belajar.id
- Para guru dan pegawai SMAN 1 Satarmese mampu
memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran baik dalam kegiatan intrakurikuler,
kokurikuler maupun ekstrakurikuler.
- Terwujudnya visi sekolah untuk menciptakan
anak murid yang berdaya saing global
c.
Pihak yang terlibat dalam Kegiatan
1)
Panitia
Panitia
kegiatan adalah siswa-siswi SMA Negeri 1 Satarmese yang tergabung dalam komunitas
ekstrakurikuler Jurnalistik ‘PersSmansa Narang’.
2)
Peserta
Peserta
kegiatan terdiri atas 44 orang guru yang ada di lembaga pendidikan SMA Negeri 1
Satarmese, 5 orang pegawai dan 4 orang mahasiswa Universitas Boedi Utomo yang
sedang menjalankan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) di SMA Negeri 1 Satarmese.
3)
Narasumber
Adapun narasumber dalam kegiatan pelatihan ini melibatkan 2 orang Google Certified Educator yang memiliki lisansi langsung dari REFO Indonesia sebagai konsultan pendidikan yang ditunjuk oleh kementrian untuk menjalankan program Google Workspace for Education bagi seluruh pendidik dan tenaga kependidikan di Indonesia. Kedua narasumber tersebut adalah GCE Veronicus Littik, S. Pd., Gr dan GCE Danar Wulan, S. Si.
Hari kedua kegiatan, Pengajar Praktik yang hendak melakukan pendampingan terhadap penulis sebagai Calon Guru Penggerak terlibat langsung dalam kegiatan mulai pukul 09.00 WITA hingga pukul 15.00 WITA.
d. Pelaksanaan
Kegiatan
Kegiatan pra-pelatihan yakni pembentukan panitia dan
melakukan lobi dengan narasumber pelatihan. Melaui pendekatan dan permohonan
secara tertulis rancangan kegiatan menemukan gambaran awal dimana narasumber
melakukan koordinasi dan komunikasi dengan pihak REFO. Selanjutnya anggota
komunitas ekstrakurikuler Jurnlaistik ‘PersSmansa bersama dengan pembina
melakukan rapat pembentukan panitia kegiatan pada hari Senin, 28 Maret 2022.
Kegiatan pelatihan dilaksanakan selama dua hari yakni Rabu,
30 Maret 2022 hingga Kamis, 31 Maret 2022 di Aula SMA Negeri 1 Satarmese. Kegiatan
ini dimulai pada pukul 08.00 WITA dan berakhir pada pukul 17.00 WITA. Dalam
pelaksanaan kegiatan ditemukan bahwa Sebagian guru belum menautkan akun
belajar.id dengan SIM PKB, Sebagian lagi lupa dengan password akun, bahkan
beberapa diantaranya belum pernah membuka akun belajar.id. dari sana dapat ditemukan
jawaban asumsi awal anak komunitas bahwa sebagian besar guru belum mampu memanfaatkan
akun belajar.id untuk pengembangan pembelajaran.
Dalam sambutan saat pembukaan kegiatan, ketua panitia atas
nama Oktaviani Sandra Rendut (Siswi kelas XII-Jurusan Matematika dan Ilmu Alam)
telah memberikan sebuah kata-kata bijak yang cukup menantang para guru. Sebagai
pesan bagi para guru dan pegawai dia menutup sambutan dengan kutipan kata bijak
Mario Tegu “Orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu dan orang
yang masih terus belajar akan menjadi pemilik masa depan”.
Dari kegiatan selama dua hari dimana peserta mempelajari Pengeloaan
Drive, Penggunaan Google Docs, Pembuatan Survey Menggunakan Google Form,
Membuat Evaluasi pembelajaran dengan Google Form dan Penggunaan Google
Classroom, disimpulkan peserta belum mampu menerapkan dengan baik semua fitur
yang telah dipelajari. Dari sana disimpulkan bahwa kegiatan pelatihan tahap
berikutnya akan dirancang lebih sehingga para guru dan pegawai bisa memahami
dan mengaplikasinkannya dalam pembelajaran teristimewa selama masa pandemi.
e.
Evaluasi Kegiatan
Evaluasi internal panitia tentang pelaksanaan kegiatan dilakukan setelah kegiatan selesai. Anak murid memutuskan untuk melihat perubahan dalam waktu berjalan akan kemanfaatan pelatihan dan akan berencana untuk melakukan pelatihan tahap kedua jika masih diberikan ruang untuk menyelenggarakan kegiatan serupa.

Comments
Post a Comment