Mengintip Profil Salah Satu Calon Guru Penggerak Asal SDK Cewonikit
Lokakarya 7 Calon Guru Penggerak
Angkatan 3, Kabupaten Manggarai telah usai. Seminggu berlalu begitu cepat. Hingar
bingar kegiatan yang memamerkan produk sebagai hasil pembelajaran dalam program
Pendidikan Guru Penggerak telah sepi dari beranda maya para Calon Guru
Penggerak, Pengajar Praktik serta Fasilitator program tersebut. Rumah ret-ret
Bunda Carmel yang terletak di Wae Lengkas Kecamatan Langke Rembong menjadi
saksi bisu bahwa di sana pernah menyelenggarakan sebuah kegiatan Festival Panen
Belajar para guru kreatif, inovatif dan kolaboratif se-kabupaten Manggarai.
Ada 71 orang Calon Guru Penggerak dan 11
Pengajar Praktik yang melibatkan 3 orang fasilitator dari P4TK Penjaskes/BK
terlibat dalam festival tersebut. Ada banyak produk sebagai hasil karya dan
inovasi para calon Guru Penggerak memadati ruang Aula di Gedung utama biara
yang berada di tengah kesunyian itu.
Tamu undangan dan bahkan Pengajar
Praktik sendiri tidak memiliki waktu yang cukup untuk sekadar menengok hasil
karya para Calon Guru Penggerak yang bukan menjadi dampingannya. Alhasil,
tinggalah Pengajar Praktik dan CGP dampingannya yang mengetahui secara detail
hasil karya atau produk yang dipamerkan. Beberapa tamu undangan termasuk bupati
Kabupaten Manggarai, Bapak Heribertus Gerardus Laju Nabit dan para undangan
lain yang memiliki kesempatan untuk mengunjungi semua stan pameran yang akan
mengetahui karya-karya 71 calon Pemimpin Pembelajaran di Kabupaten Manggarai tersebut.
Mereka para Calon Guru Penggerak memamerkan hasil karya anak murid sebagai wujud pembelajaran keberpihakan pada murid sebagaimana tujuan pembelajaran merdeka belajar yang didengungkan mas Mentri Nadiem Makarim. Salah satu dari 71 Calon Guru Penggerak tersebut, adalah ibu Hildegardis Y. Pandur, S. Pd. Calon Guru Penggerak yang berasal dari instansi Sekolah Dasar Katolik (SDK) Cewonikit tersebut menampilkan beberapa hasil karya anak murid dalam hajatan Lokakarya itu. Adapun beberapa karya anak murid SDK Cewonikit tersebut adalah berasal dari sampah botol air mineral yang telah dikreasi menjadi sebuah maha karya bernilai seni.
Melalui Program “Pemanfaatan Limbah
Botol Mineral Dalam Mengurangi Sampah”, ibu Hilde demikian keseharian anak
murid memanggilnya menyulap botol air mineral menjadi barang bernilai seni dan
berharga. Setelah melalui tahapan mendengarkan curahan hati (Voice), menyimak
pilihan (Choice) dan rasa memiliki (ownwrship) anak muridnya, ibu guru lulusan
2014 dari Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Santu Paulus-Ruteng itu melakukan
aksi nyata dengan mengubah sampah botol mineral menjadi bangku, meja, tempat
penyimpanan pensil/ballpoin dan lainnya.
Pribadi yang cerdas, murah senyum dan
rendah hati itu berhasil membimbing dan menuntun tangan-tangan mungil siswa
kelas tiga (3) Sekolah Dasar Katolik Cewonikit menjadi terampil dan cekat dalam
berkarya dan berinovasi. Arahan singkat, jelas dan sederhana sulung dari empat
bersaudara dalam keluarganya, bagaikan sabda yang mampu mengubah cara pandang
anak murid yang luguh dan polos. Mereka para murid kelas tiga yang berkisar
pada usia 9 sampai 10 tahun tersebut tampak cekat dan terampil membuat botol
air mineral menjadi sesuatu yang bernilai guna sesuai dengan suara dan pilihan
mereka.
Sebagai seorang Calon Guru Penggerak, ibu Hilde tidak hanya tergerak dan bergerak sendiri. Beliau juga telah berhasil menggerakkan rekan sejawat, dimana dalam menjalankan program pengolahan sampah botol mineral melibatkan ibu guru kelas Lima (5). Sebut saja ibu Victoria Lerrick, S. Pd. Ibu Ian biasa disapa, mendapatkan kesempatan untuk berkolaborasi dengan anak dari bapak Pius Pandur dalam mengubah sampah menjadi barang berguna.
Dalam testimoninya ibu Ian menyampaikan
terima kasih kepada rekan sejawatnya di SDK cewonikit itu karena telah mengubah
wajah barang tak berguna menjadi barang yang bernilai seni. Ibu Ian mengatakan
ibu Hilde telah menggerakkan banyak orang yakni dirinya dan juga anak murid di
sekolahnya untuk mengurangi sampah sebagai upaya merawat bumi dan polusi yang pada akhirnya mengurangi pemanasan global.
Salah satu siswa kelas 5, Ain
menyampaikan dirinya sangat senang bisa menciptakan sebuah karya dari sampah
menjadi kursi atau bangku. Ain bersyukur karena dengan kegiatan itu dirinya
merasa memiliki keterampilan baru. Tidak hanya itu, Ain juga merasa dirinya
bisa belajar berkolaborasi dengan teman kelas lewat kegiatan pengolahan sampah
air mineral, sambil sesekali menunjuk produk hasil kerja kelompoknya dan
mengatakan ini hasil karya kami. Kursi yang sedang dia duduk.
Ibu Hilde telah menginspirasi penulis
dan banyak orang. Ibu Hilde adalah sosok yang lebih memilih membaca buku atau
menulis saat dirinya jenuh atau letih setelah menjalankan tugas sebagai guru
bagi anak muridnya di SDK Cewonikit pun saat senggang di tengah padatnya jadwal
dan tugas dalam program Pendidikan Guru Penggerak.
Ibu Hilde adalah satu dari puluhan Calon Guru Penggerak Kabupaten Manggarai yang lebih memilih berkarya daripada bernarasi. Ibu Hilde telah menampilkan karya anak murid yang luar biasa memberikan dampak bagi banyak orang kemarin saat festival panen hasil belajar berlangsung. Hari ini, Ibu Hilde memberikan pelajaran dan membuka mata banyak orang bahwa di masa depan ada banyak generasi yang akan bisa menikmati bumi ini dari hasil pemikiran dan sentuhan tangannya. Ibu Hilde adalah sosok yang lebih memilih pragmatis daripada idealisme.



Inspiratif
ReplyDeleteTerima kasih.. Ibu Hilde salah satu Guru hebat Kabupaten Manggarai
Delete