PPGP Merupakan Akses Perbaikan Kualitas Pendidik Indonesia
Program Pendidikan Guru Penggerak
(PGP) merupakan sebuah kebijakan Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan
Teknologi (Kemdikbudristek) dalam upaya perbaikan mutu Pendidikan Indonesia.
Program ini merupakan salah salah satu kebijakan untuk menciptakan merdeka
belajar yang dicanangkan oleh Kemdikbudristek pada tahun 2019 silam. Tujuan
dari program ini tentunya sangat mulia yakni kegiatan pengembangan profesi
melalui pelatihan dan pendampingan yang berfokus pada kepemimpinan pembelajaran
agar mampu mendorong tumbuh kembang peserta didik secara holistik; aktif dan
proaktif dalam mengembangkan pendidik lainnya untuk mengimplementasikan
pembelajaran yang berpusat kepada peserta didik; serta menjadi teladan dan agen
transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila.
Menilik fokus program ini yaitu
kepemimpinan pembelajaran, dapat diasumsikan bahwa salah satu unsur yang
menjadi degradasi mutu Pendidikan Indonesia adalah pendidik sebagai pemimpin
pembelajaran. Masih belum usang dalam ingatan pelaku Pendidikan Indonesia,
bagaimana rendahnya mutu Pendidikan berdasarkan survey Programme for International
Students Assessment (PISA) yang dilakukan oleh Organisation for Economic
Cooperation and Development. Tidak sedikit pengamat Pendidikan melontarkan
komentar musabab rendahnya mutu Pendidikan Indonesia. Sorotan penyebab
degradasi mutu terarah kepada pendidik. Menurut para pengamat mutu guru
Indonesia menjadi penyebab kualitas Pendidikan. Sebagian besar guru Indonesia, seolah
kebakaran jenggot dan mulai menyerang balik para pengamat. Banyak guru merasa profesinya
direndahkan oleh para pengamat. Apakah pengamat Pendidikan berbicara tanpa
berbasis data?
Dalam draft Peta Jalan Sistem
Pendidikan Indonesia 2020-2035 yang dirilis pada bulan Mei 2020, Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan memaparkan hasil survey PISA 2018-2020. Tiga aspek
yang disurvey yakni membaca, numerasi dan sains, secara berurutan pelajar
Indonesia 73% siswa berada di bawah kompetensi minimum, 71% siswa berada di
bawah kompetensi minimum, dan 60% siswa berada di bawah kompetensi minimum. Hasil
ini menempatkan Indonesia sebagai negara yang konsisten sebagai negara
peringkat hasil PISA terendah dan skor PISA yang stagnan dalam 10 sampai 15
tahun terakhir.
Permasalahan utama kualitas
Pendidikan terutama pada jenjang Pendidikan dasar dan menengah menurut Peta
Jalan Sistem Pendidikan Indonesia 2020-2035 adalah (1) Kesenjangan dalam
keefektifan mengajar dan cara mengajar, (2) Infrastruktur sekolah yang tidak
memadai, (3) Kurikulum yang kaku dan berbasis materi, dan (4) Kesenjangan
pemerintahan.
Kesenjangan dalam keefektifan
mengajar dan cara mengajar ditemukan bahwa guru bertindak sebagai pemberi ilmu,
bukan fasilitator, dan kurang atau tidak fokus pada pengembangan karakter dan
penanaman rasa senang belajar. Selain itu, Pertanyaan guru cenderung dangkal
karena 90% jawaban siswa hanya satu kata dan jarang melibatkan berpikir aras
tinggi (Higher Order Thinking) dan kurang penjelasan atau alasan dalam
memberikan jawaban. Fakta lain juga menunjukan bahwa dari Ujian kompetensi Guru
(UKG) yang dilaksanakan serempak di seluruh Indonesia, skor rata-rata
kompetensi guru adalah 57 dari angka 100.
Guru sebagai pemimpin pembelajaran mesti
dibenahi. Program Pendidikan Guru Penggerak (PPGP) merupakan satu terobosan
besar kementrian Pendidikan dalam memperbaiki kualitas Pendidikan Indonesia.
Ajakan Mendikbudristek, Nadiem Makarim untuk bergerak serentak memajukan
Pendidikan Indonesia bukan sekadar orasi belaka. Program PGP yang sudah sampai
pada perekrutan Angkatan 4, melibatkan semua elemen atau stakeholder Pendidikan
mulai dari Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Pusat
Pengembangan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK), Dinas
Pendidikan Kabupaten/Kota/Provinsi, dan satuan pendidikan, baik yang
diselenggarakan oleh pemerintah daerah maupun oleh masyarakat.
Dengan tugas dan peran
masing-masing, semua bergerak serentak dalam meningkatkan komptetensi
kepemimpinan dan pedagogik guru demi terwujudnya merdeka belajar. Melakukan
refleksi, berbagi dan berkolaborasi dengan bimbingan instruktur, fasilitator,
dan pendamping calon guru penggerak dilatih untuk bergerak dan menjadi
penggerak dalam memajukan Pendidikan Indonesia. Dengan pendekatan andragogi dan
blended learning, PPGP akan melaksanakan kegiatan pelatihan selama
Sembilan (9) bulan dengan motede dalam jaringan (daring), lokakarya dan
pendampingan individu.
Merancang, melaksanakan,
merefleksikan, dan mengevaluasi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik
dengan melibatkan orang tua, melakukan kolaborasi dan menggerakkan komunitas
lain penulis meyakini Program Pendidikan Guru Penggerak akan mampu menciptakan
profil guru penggerak yang mampu membentuk pelajar sepanjang hayat yang
kompeten, berkarakter, dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila.
Comments
Post a Comment