PENERAPAN TEKNIK COACHING DALAM PEMBELAJARAN YANG BERPIHAK PADA MURID
Keberpihakan pada murid merupakan
salah satu wujud merdeka belajar. Keberpihakan pada murid tidak diterjemahkan
sebagai berpihak pada semua aktivitas, sikap dan tutur murid. Keberpihakan
dimaksud adalah keberpihakan pada minat dan kebutuhan belajar murid, gaya
belajar dan kodrat alam serta kodrat zaman murid. Guru dalam hal ini harus
mengetahui bahwa hakekat seorang manusia terlahir bukan seperti selembar kertas
kosong. Sebagai manusia, murid tentunya hadir di kelas dengan latar belakang,
kemampuan dan potensinya masing-masing. Guru hadir di tengah murid untuk membentuk
latar belakang murid menjadi sebuah fondasi dalam mengembangkan kemampuan dan potensi
anak murid agar makin nampak dan kuat.
Untuk mencapai hal tersebut nilai
dan peran seorang guru menjadi sangat vital dalam mewujudkan kemerdekaan
belajar. Guru tidak hanya hadir di tengah anak murid untuk menyajikan materi
sebagaimana tertuang dalam kurikulum. Guru hadir tidak hanya mengajar tetapi
lebih daripada itu guru hadir untuk mendidik. Guru hadir untuk bisa
memfasilitasi semua kebutuhan belajar demi pengembangan kemampuan dan potensi
anak murid.
Salah satu fungsi dan peran guru
dalam mengembangkan dan atau meningkatkan potensi diri anak murid adalah
melakukan teknik coaching. Guru harus mampu memainkan multi peran. Guru tidak
bisa melepaskan atau membiarkan anak murid yang bermasalah terlarut dalam
permasalahan yang dihadapi atau bahkan melempar tanggung jawab kepada seorang
konselor untuk menyelesaikan permasalahan yang dialami anak murid. Guru yang
berpihak pada murid adalah guru yang mampu memainkan peran sebagai konselor dengan
melakukan teknik sederhana yaitu coaching. Lantas apa itu coaching?
Coaching adalah sebuah proses
kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis,
dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup,
pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999). Coaching
adalah kunci pembuka potensi seseorang untuk memaksimalkan kinerjanya. Coaching
lebih kepada membantu seseorang untuk belajar daripada mengajarinya (Whitmore,
2003)
Coaching merupakan sebuah teknik penyelesaian
masalah dimana seorang coach mendorong orang yang dilatih untuk dapat
menyelesaikan masalah yang dihadapinya dengan menggunakan kemampuan, potensi
dan sumber daya yang ada dalam dirinya. Dalam konteks pendidikan maka coach
adalah sebuah teknik yang dillakukan oleh seorang guru dalam menyelesaikan
persoalan yang dialami anak murid, dimana murid (coachee) mampu menyelesaikan
masalah dengan mengandalkan kemampuan, bakat dan sumber dayanya sebagai murid.
Guru melakukan teknik ini dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan penuntun
menuju keputusan dan tanggung jawab yang diambil oleh murid sebagai coachee.
Untuk bisa membuat rangkaian
pertanyaan penuntun dalam penyelesaian masalah atau persoalan murid, guru
sebagai coach tentunya harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
Komunikasi yang baik akan menjadi tolok ukur pencapaian pesan dari komunikator
kepada komunikan.
Menurut Habermas, komunikasi
merupakan hubungan yang simetris atau timbal balik. Komunikasi selalu terjadi di
antara pihak yang sama kedudukannya.
Komunikasi justru bukan hubungan kekuasaan, melainkan hanya dapat
terjadi apabila kedua belah pihak saling mengakui kebebasannya dan saling
percaya.
Dalam penerapan teknik coaching,
seorang guru tidak menempatkan dirinya sebagai seorang yang memiliki kekuasaan
untuk dapat memberikan sebuah keputusan terhadap masalah yang dihadapi anak
murid. Guru dalam teknik coaching harus mampu menempatkan dirinya sebagai orang
yang dapat dipercaya oleh murid dan menjunjung tinggi asas kebebasan murid
dalam menyampaikan persoalan yang dihadapinya. Mengakui kebebasan dan saling
percaya akan terwujud manakala seorang guru memiliki gaya komunikasi yang
humanis. Gaya komunikasi yang dimaksud adalah bukan gaya komunikasi agresif,
bukan pula gaya komunikasi submisif melainkan kombinasi dari gaya komunikasi
agresif dan submisif yakni gaya bahasa asertif. Gaya komunikasi asertif adalah
gaya komunikasi dimana guru mampu menjadi pendengar yang baik, memberikan
perhatian penuh pada setiap kata yang terucap dari cochee (anak murid) dengan
cara menjaga kontak mata dalam membangun komunikasi, menunjukan rasa empati
terhadap apa yang dialami anak murid dan mampu menemukan potensi dan kemampuan
yang ada dalam diri anak murid untuk nanti dijadikan rujukan dalam penyelesaian
persoalan atau masalah yang dihadapinya.
Dengan bekal kemampuan komunikasi
yang baik, seorang guru tentu tidak boleh melupakan perannya sebagai orang yang
diguguh dan ditiru. Guru yang demikian pada dasarnya harus memahami dan mampu
menerapkan hakekat dirinya sesuai dengan semangat filosofi pendidikan yang
memerdekakan murid. Filosofi tersebut, adalah filosofi guru sebagai Ing
Ngarso Sung Tulada, In Madya Mangun Karsa, dan Tutu Wuri Handayani. Sebagai
seorang guru yang memiliki semangat Tut Wuri Handayani, menghayati dan memaknai
mindset Ki Hajar Dewantara dalam menerapkan teknik coaching untuk penyelesaian
persoalan anak murid adalah sebuah keniscayaan.
Dengan memahami pemikiran Ki Hajar
Dewantara tersebut, guru dalam proses coaching secara emansipatif dalam sebuah
ruang perjumpaan yang penuh kasih dan persaudaraan. Guru dalam penerapan
coaching harus mampu menempatkan; (1) murid sebagai mitra belajar. Guru sejatinya memiliki sebuah cara
berpikir bahwa dalam proses coaching keduanya memiliki kesepahaman yang sama tentang
belajar. Ketika mendengarkan murid, guru belajar mengenali kekuatan dirinya
juga mengenali muridnya secara mendalam. Demikian pula sebaliknya, tuntunan
yang diberikan guru memberikan ruang bagi siswa untuk menemukan kekuatan
dirinya sebagai murid dan sebagai manusia, (2) emansipatif.
Proses coaching membuka ruang
emansipatif bagi guru dan siswa untuk merefleksikan kebebasan mereka melalui
kesepakatan dan pengakuan bersama terhadap norma-norma yang mengikat mereka.
Ruang emansipatif memberi peluang bagi murid untuk menemukan kekuatan
kodratnya, potensi dirinya, dan kekuatan yang dimilikinya, (3) Kasih dan
Persaudaraan. Proses coaching sebagai sebuah latihan menguatkan semangat Tut
Wuri Handayani yaitu mengikuti/mendampingi/mendorong kekuatan kodrat murid
secara holistik berdasarkan cinta kasih dan persaudaraan tanpa pamrih, tanpa
keinginan menguasai dan memaksa. Murid adalah seorang manusia yang memiliki
kebebasan untuk mendapatkan cinta kasih, dan (4) Ruang Perjumpaan Pribadi. Proses
coaching merupakan sebuah ruang perjumpaan pribadi antara guru dan murid
sehingga keduanya membangun rasa percaya dalam kebebasan masing-masing.
Kebebasan tercipta melalui pertanyaan- pertanyaan reflektif untuk menguatkan
kekuatan kodrat murid.
Guru yang memahami hakekat ini
tentu akan mudah menerapkan coaching dalam proses pembelajaran dan atau
penyelesaian sebuah masalah yang dihadapi anak murid. Selain itu model
penerapan coaching di lingkungan sekolah juga menjadi salah satu faktor
keberhasilan tercapainya teknik coaching. Salah satu model yang sangat
direkomendasikan dalam penerapan teknik coaching di sekolah adalah model TIRTA.
TIRTA yang dalam bahasa jawa diartikan air memiliki kepanjangan Tujuan,
Identifikasi, Rencana Aksi, dan Tanggung jawab. Filosofi TIRTA adalah biarkan
guru hadir untuk mengidentifikasi letak tersumbatnya air dan membuka sumbatan
tersebut sehingga air dapat mengalir dengan baik. Demikian halnya dalam
penyelesaian persoalan anak murid, guru hadir untuk membuka sumbatan masalah
anak murid dan membiarkan anak murid bertanggung jawab untuk sebuah keputusan
penyelesaian masalah dengan kemampuan dan potensi yang ada dalam dirinya.
Comments
Post a Comment