KORELASI FILOSOFI PRATAP TRILOKA KHD DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN
GREGORIUS GANGGUR
CGP Angk. 3, Kab. Manggarai-NTT
Sudah tujuh (7) bulan Penulis menjalani
Pendidikan Guru Penggerak. Sejak Juli penanggalan kedua belas tahun 2021,
Penulis berkutat dengan aktivitas dan kegiatan dalam Program Pendidikan Guru
Penggerak, Angkatan 3, Kabupaten Manggarai. Banyak suka dan duka telah dilalui
hingga saat ini. Ada banyak kisah, pengalaman, pelajaran hidup telah dan akan
diperoleh melalui berbagai rangkaian kegiatan dalam program tersebut. Sejak
awal kegiatan ini, Penulis merasa terberkati mendapatkan kesempatan untuk turut
ambil bagian dalam program yang sungguh bernas tersebut.
Begitu banyak hal telah Penulis temukan
dalam kegiatan ini. Materi pembelajaran yang disajikan melalui modul
pembelajaran telah memberikan energi dan asupan pengetahuan baru bagi Penulis
untuk bisa menjadi referensi, menjadi landasan, menjadi acuan, menjadi kompas
atau bahkan menjadi harta yang tak ternilai dalam meningkatkan kapasitas diri
sebagai orang yang diguguh dan ditiru di era Pendidikan Four-Point Ought.
Memulai dari materi Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang Pendidikan, dimana
guru harus mampu menjadikan sekolah sebagai taman yang selalu memberikan
kebahagiaan bagi anak murid, Penulis dibekali dengan bagaimana agar anak murid
benar-benar berada di taman bukan di sel penjara. Menuntun, memahami kodrat, dan
menghamba kepada anak murid adalah hal baik yang dapat memberikan kemerdekaan
bagi anak murid untuk belajar. Agar mencapai hal itu, seorang guru tentunya
harus memiliki nilai dan peran yang ada dalam dirinya sehingga mampu memberikan
kemerdekaan belajar dimaksud. Nilai dan peran tersebut mestinya bisa men-darah
daging (flash and blood) dalam diri seorang guru sebagai pemimpin
pembelajaran.
Membahas pemikiran Ki Hadjar Dewantara,
tentu kita tidak asing dengan istilah ‘Filosofi Pratap triloka’ Pendidikan yang
dikonsepkan oleh beliau. Pemikiran-pemikiran beliau, sungguh mulia dan bahkan
tidak termakan zaman. Ketiga Pratap triloka yang dimaksud adalah; (1) Ing
Ngarso Sung Tulodo, (2) Ing Madya Mangun Karso, dan (3) Tut Wuri Handayani.
Ing Ngarso Sung Tulada
‘Ing Ngarso Sung Tulada’
merupakan filosofi atau pemikiran bahwa guru adalah seorang pemimpin yang
senantiasa berada di depan untuk memberikan tauladan bagi anak murid. Dalam
konteks sebagai pengambil keputusan guru yang merupakan pemimpin pembelajaran
senantiasa bertindak, berpikir, berperilaku sebagai panutan (role-model).
Sebagai role model Guru harus mampu menumbuhkan, mengembangkan dan menguatkan
nilai-nilai kebajikan universal lewat cipta, rasa dan karsa.
Mengutip kata-kata bijak Bob talbert
“Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best” (Mengajarkan
anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama
adalah yang terbaik). Mengajarkan anak murid untuk menumbuhkan karakter atau
nilai-nilai kebajikan saja tidak cukup; Guru mestinya mampu mengajarkan anak
murid lewat sikap atau perilaku dan mampu berbuat dengan kesadaran penuh (mindfulness)
dalam menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai kebajikan universal di depan
anak muridnya. Ketika Guru dengan kesadaran penuh dan konsisten menerapkan
nilai-nilai kebajikan universal, tentu akan mampu memberikan rasa kenyamanan
bagi Guru untuk mengambil sebuah keputusan baik dalam situasi dilema etika
maupun dalam situasi bujukan moral.
Ing Madya Mangun Karsa
‘Ing Madya Mangun Karsa’
artinya Guru senantiasa berada bersama atau berada di tengah anak murid untuk
membimbing, menuntun dan mengayomi anak murid dalam cipta, rasa dan karsa. Guru
harus memainkan peran ganda atau bahkan multi peran ketika berada bersama anak
muridnya. Guru harus mampu memediasi, memfasilitasi, dan menginspirasi terhadap
apa yang menjadi kebutuhan belajar, minat dan gaya belajar mereka. Memberikan
rasa kenyamanan bagi anak murid dan menempatkan anak murid sebagai subyek dalam
proses pembelajaran tentunya akan memberikan kontribusi yang baik dalam
mencapai tujuan pembelajaran itu sendiri.
Tut Wuri Handayani
Filosofi ketiga KHD adalah ‘Tut Wuri
Handayani’. Tut wuri handayani memiliki makna bahwa Guru berdiri di
belakang anak murid untuk memberikan semangat atau dorongan kepada mereka agar
mampu menjadi kepemimpinan murid. Guru memiliki kewajiban untuk memberikan kesempatan
kepada anak muridnya melakukan sesuatu dan melakukan karya-karya inovatif
sesuai dengan arahan dan dorongan Guru.
Nilai-Nilai Kebajikan Guru
Nilai-nilai kebajikan universal pada
umumnya sudah tertanam dalam diri seorang Guru, dimana nilai-nilai tersebut
telah menjadi karakter atau prinsip hidupnya. Nilai-nilai dimaksud tentu akan
sangat menunjang seorang Guru dalam menjalankan perannya sebagai pemimpin dalam
membangun niat dan kemauan belajar serta mendorong anak murid dalam tumbuh kembang
serta menemukenali jati diri mereka. Nilai-nilai tersebut di satu sisi akan
sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan seorang Guru sebagai pemimpin
pembelajaran. Bagi Penulis, semakin kaya nilai kebajikan dalam diri seorang Guru,
maka akan semakin bijak prinsip berpikir pengambilan keputusan yang akan
diambil. Prinsip berpikir pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran yang
dimaksud adalah menurut Rushworth M. Kidder dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu
(1) Berpikir berbasis hasil akhir, (2) berpikir berbasis peraturan, dan (3)
Berpikir berbasis rasa peduli.
Ketiga prinsip berpikir tersebut, pada
dasarnya telah melekat dalam diri seorang Guru sebagai pemimpin pembelajaran.
Hal itu, tentu akan berpengaruh dalam menentukan model atau paradigma dilema
pengambilan keputusan. Model atau paradigma itu antara lain; (a) Individu lawan
masyarakat (Individual versus Community), (b) Rasa keadilan lawan rasa
kasihan (justice versus mercy), (c) Kebenaran lawan kesetiaan (truth
versus loyalty), dan (d) Jangka pendek lawan jangka Panjang (short term
versus long term).
Sembilan (9) Langkah Pengambilan dan Pengujian Keputusan
Dalam penyelesaian sebuah permasalahan
yang terjadi pemimpin pembelajaran dapat saja melakukan Coaching dimana
guru membimbing dan menemukenali potensi dalam diri anak murid untuk menyelesaikan
masalah dengan potensi dalam dirinya. Namun dalam kasus atau permasalahan
tertentu pengambilan keputusan dilakukan oleh Guru. Agar sebuah keputusan yang
diambil tepat, maka perlu untuk melakukan sebuah langkah pengujian keputusan.
Langkah-langkah dalam pengambilan dan pengujian keputusan tersebut terdiri atas
9 langkah yakni:
1.
Mengenali nilai-nilai yang saling
bertentangan dalam sebuah kasus atau situasi yang terjadi.
2.
Menentukan siapa saja yang terlibat
dalam situasi tersebut.
3.
Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan
dengan situasi yang terjadi.
4.
Melakukan pengujian benar atau salah
dengan cara: a) uji legal, b) Uji regulasi/standar professional, c) uji
intuisi, d) uji publikasi, dan e) uji panutan/idola
5.
Pengujian paradigma benar lawan benar.
6. Melakukan prinsip resolusi melalui tiga
prinsip; End-Based Thinking, Rule-Based Thinking dan Care- Based Thinking
7.
Melakukan investigasi opsi trilema
8.
Membuat sebuah keputusan
9.
Melakukan refleksi terhadap keputusan
yang telah diambil
Kemampuan Sosial dan Emosional
Kemampuan sosial dan emosional
seorang pemimpin pembelajaran menjadi salah satu faktor penting dalam
pengambilan keputusan. Guru yang memiliki kemampuan tersebut ketika berpijak
pada prinsip dan nilai-nilai kebajikan yang ada dalam dirinya, akan memberikan
kontribusi yang baik dalam pengambilan dan pengujian sebuah keputusan. Kecerdasan
sosial dan emosional tersebut tentu akan menjadikan seorang Guru lebih
berwibawa dan bijak dalam pengambilan sebuah keputusan. Keputusan yang diambil
tentu adalah keputusan yang tepat. Ketepatan dalam pengambilan keputusan itu pada
akhirnya akan berdampak positif terhadap anak murid, rekan sejawat, dan
tentunya bagi lembaga Pendidikan atau semua warga sekolah. Sehingga akan terciptanya
lingkungan sekolah yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
Pengambilan Keputusan Kasus Dilema Etika SMA Negeri 1 Satarmese
Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap
guru pasti akan berhadapan dengan situasi dilema etika. Tidak terkecuali
Penulis yang kesehariannya mengabdikan diri sebagai Guru pada lembaga pendidikan
SMA Negeri 1 Satarmese. Berbagai kesulitan tentu Penulis alami di sana.
Kesulitan tersebut menurut kaca mata Penulis lebih banyak karena adanya
perbedaan prinsip yang terbentuk oleh nilai-nilai kebajikan dalam diri individu
(Guru).
Kesulitan tersebut, kadang pula
disebabkan oleh kemampuan sosial dan emosional. Kemampuan sosial dan emosional
yang berbeda dan juga paradigma dilema etika yang berbeda memberikan kontribusi
kesulitan masing-masing dalam pengambilan sebuah keputusan. Kesulitan-kesulitan
tersebut tentu berdampak pada kemerdekaan belajar yang diharapkan. Kontribusi
itu kadang berdampak jangka pendek, kadang pula berdampak jangka panjang.
Oleh karena itu, bagi Penulis,
pengembangan diri Guru merupakan hal baik dalam meningkatkan kapasitas sebagai
pemimpin pembelajaran, sehingga akan dapat mengambil sebuah keputusan yang
teruji dan terukur. Keputusan yang teruji dan terukur tentu hanya akan dapat
diterapkan dengan baik manakala adanya kesamaan paradigma pengambilan keputusan
yang tepat sehingga akan memberikan kemerdekaan belajar bagi anak murid yang
pada akhirnya akan terwujud Profil Pelajar Pancasila.
Mantap kk. Salut luar biasa
ReplyDeleteTerima kasih kaka
DeleteLuar biasa pak. Sangat menginspirasi saya. Tulisan ini juga semakin menambah wawasan pembaca terutama dalam hal memahami filosofi pemikiran KHD untuk selanjutnya dapat diterapkan pada kelas yang konkrit.
ReplyDeleteGuru bergerak Indonesia Maju
Salam guru penggerak pak. 🙏🙏👍👍
Terima kasih brother.. Semangat dan sukses membangun anak bangsa. Salam guru penggerak..
DeleteGuru itu digugu lan di tiru. Itu guru. Jadi guru bkn saja profesi pekerjaan saja. Jadi pribadi guru mjd satu aspek dlm pembelajaran baik di ruang kelas maupun di masyarakat. Good job my brother semoga bnyk para guru membaca tulisan ite sebagai refrensi reflektif dlm menjlnkn profesi sebagai guru.
ReplyDeleteThank you brother...
Delete