Menjadi Orang Kampung Tetapi Jangan Kampungan

 

Gregorius Ganggur (foto: dok. pribadi)

Saat saya nyenyak istirahat sore ini, saya dibangunkan oleh suara seorang bocah berapi-api menyampaikan pidatonya dari android istri saya yang kebetulan sedang menyimak sebuah video seorang siswi Sekolah Dasar di Kabupaten Manggarai Timur dinobatkan sebagai Jawara perlombaan Pidato dalam ajang Expo Pendidikan memperingati Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2022. Zefanya Rahmawati Dwiputri, Siswi kelas enam (6) SDK Benteng Jawa, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur. Suaranya tegas, jelas, santai, dan pemilihan diksinya hemat saya, tidak mudah dipahami oleh orang biasa apalagi anak seusianya.

Tema dalam pidatonya, membawa ingatan saya kembali ke bulan Agustus tahun lalu, tepatnya tanggal 20 Agustus 2021. Saat itu saya, mengikuti Web Meeting Ruang Kolaborasi bersama instruktur program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 3, dengan materi Refleksi Filosofi Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara. Dalam ruang diskusi saya dikagetkan dengan reaksi beberapa peserta yang meyakini bahwa Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara adalah Filosofi kuno, yang bisa saja sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan dunia saat ini. Beberapa diantaranya menyampaikan bahwa pemerintah telah melakukan berbagai riset dan penelitian hingga melakukan studi banding ke beberapa negara barat yang konon pendidikannya terbaik di dunia.

Fanya, dalam pidatonya mengangkat tema “Merdeka belajar” dengan judul Mencari Ilmu. Terlepas dari The man behind the screen, bagi saya Fanya hanyalah seorang bocah yang berasal dari kampung. Fanya tinggal di Benteng Jawa, ibukota kecamatan Lamba Leda. Fanya bukan tinggal di kota Borong, Kupang atau bahkan tinggal di kota Metropolitan seperti Jakarta. Pemilihan kata dalam pidatonya sungguh membuat mata saya terbuka lebar dan melupakan kantuk yang tersisa. Dia berbicara lantang, santai dan menjiwai setiap kata yang terucap.

Adik Fanya, sang Jawara Lomba Pidato Tingkat SD Kabupaten Manggarai Timur, berpose bersama Sekretaris Dinas PPO, Pengawas Dikdas dan didampingi Kepala sekolahnya (Foto: Sekdis PPO Matim, kaka Roffy Hibur Hijau)

Sungguh membuat saya terkesima dan bangga padanya. Saya merinding dan kagum. Bagaimana mungkin anak sekolah dasar itu begitu yakin dan percaya diri dengan kemerdekaan belajar? Bagaimana mungkin dia fasih dan penuh keyakinan mengucapkan setiap kata tentang merdeka belajar? Ingatan saya kembali melayang pada kata-kata yang selalu saya ucapkan dalam setiap momen kebersamaan dengan anak murid.

Bahwa kita boleh saja terlahir dan dibesarkan di kampung, tetapi jangan sesekali kita menjadi kampungan. Adik Fanya meyakinkan saya bahwa apa yang saya sampaikan kepada anak murid baik adanya. Bagi saya, Benteng Jawa dimana Fanya sang jawara dibesarkan bukanlah sebuah kota yang memiliki aneka tawaran dan kemudahan dalam mengakses fasilitas dan media pembelajaran seperti halnya siswa-siswi di kota besar. Dia tentu memiliki keterbatasan dalam mendapatkan kemudahan akses seperti toko buku, e-book, e-modul, lembaga kursus dan media lainnya yang bisa dijadikan sebagai sarana pendukung dalam meningkatkan bakat yang dia miliki sebagaimana Ki Hadjar Dewantara katakan.

Fanya bahkan berbicara literasi dengan indeks literasi Indonesia melalui hasil survey Programme for International Students Assessment tanpa cacat.  Bagi saya, Fanya bisa berdiri di panggung besar di hadapan ribuan mata yang menempatkan titik fokus pada dirinya yang sedang berpidato adalah sebuah tantangan besar. Bahkan bagi saya sendiri, hal ini sangat sulit untuk bisa berbicara sesantai dan selantang dia.

Bagi saya, Fanya tidak hanya mampu berpidato dengan tema kemerdekaan belajar. Fanya sesungguhnya telah mengalami dan sedang menikmati kemanfaatan merdeka belajar yang dicetus oleh bapak pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara. Fanya telah mengalami dan menikmati bahwa Sekolah Dasar Katolik Benteng Jawa telah menjadi taman menyenangkan bagi dirinya. Sekolah Dasar Katolik Benteng Jawa telah menjadi tempat yang subur untuk bisa mengembangkan dan meningkatkan bakat yang dia miliki.

Untuk menjadi taman yang menyenangkan dan lahan yang subur untuk menumbuhkan bakat yang dia miliki, tentu ada 'petani' yang benar-benar memahami sekolah sebagai taman. Tentu di sana ada petani yang benar-benar memahami proses menyuburkan bakat Fanya sehingga tumbuh subur dan terus berkembang. 'Petani' yang menggarapi taman dan memupuk kesuburan bakat Fanya adalah pribadi yang telah memerdekakan belajar pada anak murid. Mereka telah menghamba kepada anak murid. Mereka sungguh telah berpihak pada murid dan telah merancang berbagai program yang tentunya berdampak pada murid bukan berdampak pada guru apalagi finansial guru. Fanya adalah pribadi yang menyadari bahwa lahir dan dibesarkan di kampung tidak membuat dia menjadi kampungan. Menjadi pribadi yang lahir di kampung, tetapi berpikir dan bertindak global adalah bentuk penolakan menjadi kampungan.

Selamat dan profisiat padamu Zefanya Rahmawati Dwiputri. Saya bangga padamu. Saya kagum padamu. Terus mengasah diri adik. Izinkan saya menjadi pengagummu.

Comments

Popular posts from this blog

Salahkah Berbagi Praktik Baik Dalam Pembelajaran ‘Merdeka Belajar’?

Mengintip Profil Salah Satu Calon Guru Penggerak Asal SDK Cewonikit