REFLEKSI BELAJAR DARI RUMAH SELAMA MASA COVID-19: PENDIDIK LEBIH MEMBUKA DIRI DENGAN PERKEMBANGAN IT
Corona
Virus Disease Nineteen (COVID-19) telah melumpuhkan semua tatanan aspek
kehidupan umat manusia di seluruh penjuru dunia. Indonesia pun tidak luput dari
keganasan virus ini. Penyebarannya begitu cepat. Lewat Satuan Tugas (Satgas) pemerintah
melakukan berbagai upaya menangani covid-19 seperti pemberlakuan social
distancing/physical distancing dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)
untuk memutus mata rantai penyebaran virus. Physical Distancing dan PSBB
berakhir tanpa mengkahiri angka tertular Covid-19 di seluruh nusantara. Dampak
covid pun berimbas pada pendidikan. Sekolah-sekolah diberhentikan kegiatan
belajar mengajar. Pemerintah lewat Surat Edaran Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan nomor 15 Tahun 2020 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari
Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19) memerintahkan
agar peserta didik belajar dari rumah. Hajatan Ujian Nasional (UN) tingkat
Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang sudah
terjadwal oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pun harus ditiadakan lebih
awal dari keputusan semula yang memberhentikan Ujian Nasional pada tahun 2021.
Dunia
pendidikan Indonesia bagaikan sebuah kapal yang berada dalam hantaman badai
dasyat. Rencana pembelajaran yang tersampul rapi dalam perangkat pembelajaran
para pendidik seolah tak bermakna. Semua pendidik terutama para pendidik di
pelosok nusantara mengalami goncangan hebat dalam mencapai tujuan akhir proses
pembelajaran. Ruang kelas tidak lagi menjadi tempat favorit dalam melakukan aktivitas
belajar mengajar, melakukan evaluasi dan penilaian terhadap suatu proses
pembelajaran. Lalu bagaiamana melakukan kegiatan pembelajaran, evaluasi dan
penilaian terhadap peserta didik? Apakah para pendidik berdiam diri dan
berharap peserta didik melakukan belajar mandiri di rumah? Lalu bagaimana
pendidik melakukan penilaian hingga menuliskan angka pada laporan hasil belajar
peserta didik di akhir semester?
Sederetan
pertanyaan tersebut adalah beberapa dari banyak permasalahan dalam pembelajaran
dari rumah (Learning from Home) yang dialami oleh penulis selama Covid-19. Mengharapkan
peserta didik agar belajar secara mandiri di rumah selama masa covid adalah
suatu keniscayaan. Sebagian besar peserta didik salah menginterpretasi belajar
dari rumah. Peserta didik berasumsi belajar dari rumah adalah sama dengan kata
libur. Pembatasan fisik atau jarak antara pendidik dan peserta didik malah akan
memperburuk perkembangan kognisi, skill dan afeksi peserta didik manakala
pendidik terus berharap anak didiknya belajar mandiri di rumah. Sehingga
kehadiran seorang pendidik dalam situasi pembatasan jarak dan fisik sangat
dibutuhkan untuk sekadar mengingat, membimbing dan memotivasi mereka.
Perkembangan
media informasi dan teknologi telah sangat membantu pendidik untuk
merealisasikan hal tersebut. Terdapat banyak media informasi dan teknologi
dapat membantu pendidik dalam menjaga interaksi dan pembelajaran dengan peserta
didik. Ketersediaan dan kemudahan fasilitas tersebut tentunya akan bernilai
guna manakala seorang pendidik melek terhadap teknologi. Namun demikian keterpahaman
terhadap teknologi hanya akan berkembang ketika seseorang memiliki literasi
digital yang cukup. Sehingga ketika seorang pendidik telah memilikinya, akan
dapat membantu dirinya dalam berinteraksi dan melakukan proses pembelajaran
walau ada pembatasan antara pendidik dan peserta didik.
Penggunaan
media informasi dan teknologi dimaksud tentu saja dengan tetap mempertimbangkan
akses dan ketersediaan bagi peserta didik. Pemilihan media harus didasari pada
media mana yang lebih populer dan tidak memberatkan peserta didik. Penggabungan
beberapa media tentu akan memberikan nilai lebih dalam mencapai tujuan
pembelajaran. Saya teringat kritikan pedas seorang pengamat pendidikan beberapa
bulan lalu. Menilai sebagian besar pendidik kurang memiliki keterpahaman
teknologi dan literasi digital. Secara pribadi penulis ingin mengatakan bahwa
apa yang disampaikan oleh pengamat tersebut benar.
Tidak
sedikit pendidik merasa sudah cukup dengan ilmu yang telah dipelajarinya. Tidak
sedikit pendidik menyatakan diri sebagai pendidik yang bukan terlahir di era
milenial. Tidak sedikit pula pendidik termasuk penulis berdalil ketiadaan
sarana menjadi penyebab ketidakmelekan informasi dan teknologi. Tanpa disadari
bahwa informasi dan teknologi telah hadir dalam bentuk yang cukup sederhana dan
cukup terjangkau. Hadirnya device dalam bentuk android setidaknya mampu
mengurangi dalil ketiadaan sarana.
oleh
karena itu, tidak ada kata terlambat, tidak ada terlalu tua untuk memulai.
Menjadi pendidik bukan lagi berharta ilmu pengetahuan yang diperoleh di bangku
kuliah sebagai modal dalam mendidik. Ilmu pengetahuan juga ibarat sebuah
aplikasi yang membutuhkan up-grade dan up-date. Melakukan up-grade dan up-date
tidak harus melalui pelatihan dan kursus, hal tersebut bisa dilakukan dengan
cukup melek informasi dan teknologi terkini.
Comments
Post a Comment