DEGRADASI MINAT SISWA TERHADAP BAHASA INGGRIS
Tak dapat
dipungkiri bahwa bahasa Inggris merupakan bahasa dengan jumlah penutur
terbanyak di dunia. Penutur bahasa tersebut bukan saja berasal dari negara penutur
asli (mother tongue) bahasa Inggris akan tetapi hampir seluruh negara di
belahan bumi mempelajari bahasa Inggris. Ketertarikan penutur bukan asli
penutur bahasa Inggris bisa disebabkan berbagai faktor. Ketertarikan itu
seperti tuntutan sebuah profesi atau pekerjaan, ingin bepergian ke luar negeri,
mendapatkan status sosial dan lain sebagainya. Peningkatan jumlah penutur dari
tahun ke tahun dapat pula dipengaruhi oleh adanya penetapan bahasa Inggris
sebagai salah satu mata pelajaran wajib dalam kurikulum pendidikan suatu
negara.
Hal tersebut
juga terjadi di Indonesia. Kurikulum pendidikan Indonesia menetapkan bahasa
Inggris sebagai salah satu mata pelajaran wajib (compulsory subject) bagi
peserta didik pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Menengah Atas
(SMA/SMK). Bahkan pada sebagian SD dan TK pelajaran bahasa Inggris diajarkan
pada peserta didik. Tujuan peserta didik mempelajarinya agar mampu
berkomunikasi dalam bahasa yang dipelajari baik lisan maupun tulisan. Selain
itu lembaga pendidikan tinggi telah menetapkan penguasaan bahasa Inggris
menjadi salah satu persyaratan bagi calon mahasiswa untuk melanjutkan
pendidikan berupa nilai TOEFL (Test of English as a Foreign Language) atau
IELTS (International English Language Testing System). Bahasa Inggris tidak
sekadar alat komunikasi. Ia telah menjadi katalisator bagi semua disiplin ilmu
dan teknologi masa kini.
Menyadari begitu
pentingnya peran bahasa Inggris di abad ini, pemerintah merumuskan kurikulum
sebaik mungkin. Hal ini dimaksudkan agar dapat menjawab tantangan zaman. Tujuan
mulia pemerintah merumuskannya tidak serta merta terejawantah oleh para
eksekutor kurikulum. Hasil survei Lembaga EF English Proficiency Index (EF EPI)
edisi ke-9 tahun 2019 yang mengukur tingkat kemahiran Bahasa Inggris orang
dewasa pada 100 negara di dunia, Indonesia menduduki urutan 61. Menurut hasil
survei tersebut, kemampuan Bahasa Inggris Indonesia mengalami penurunan 1,52
poin dimana pada tahun 2018 Indonesia memperoleh skor 51,58. EF EPI menjelaskan
bahwa Indonesia adalah satu dari empat negara yang mengalami penurunan
kemampuan Bahasa Inggris (TRIBUNnews.com).
Apa yang
dicita-citakan justru terasa makin jauh dari harapan yang hendak dicapai. Gap
antara asa dan realita kian melebar. Gap tersebut salah satunya kemerosotan minat
belajar pada peserta didik dalam mempelajari bahasa Inggris. Berbagai faktor
telah menjadi penyebab terjadinya kemerosotan minat belajar peserta didik. Pertama,
kurangnya motivasi dalam pembelajaran
bahasa Inggris. Membangkitkan semangat melalui motivasi merupakan salah satu
faktor penting kesuksesan belajar peserta didik. Motivasi intrisik dalam diri
peserta didik menjadi kunci utama meraih kesuksesan belajar. Motivasi
ekstrinsik hanya akan menjadi suplemen tambahan untuk mencapai sebuah goal.
Kedua, peserta
didik mengalami keterbatasan sumber
belajar dan literasi. Keterbatasan
sumber belajar menjadikan peserta didik menempatkan pendidik menjadi sumber
ilmu. Hal ini cukup berbahaya bagi perkembangan peserta didik manakala pendidik
tidak cukup mengikuti perkembangan zaman alias melek teknologi. Keterbatasan
sumber belajar diperparah oleh keterbatasan ruang baca atau pengetahuan umum.
Keterbatasan literasi digital akan memperburuk perkembangan peserta didik dalam
belajar bahasa Inggris. Hal ini bisa menjadi satu atau bahkan lebih langkah
mundur dalam mencapai tujuan belajar bahasa Inggris.
Ketiga, memilih zona nyaman. Ketiadaan motivasi dan
sumber belajar serta literasi yang cukup akan membuat peserta didik lebih
memilih pada posisi nyaman. Kenyamanan pada zona ketidakpedulian akan semakin
buruk ketika guru juga memilih pada zona yang sama. Peserta didik enggan
menyampaikan masalah belajar dengan guru dan guru terkadang tanpa memberikan
umpan balik. Peserta didik lebih memilih diam daripada salah mengucapkan sebuah
kata atau kalimat. Guru kadang asal masuk kelas tanpa harus mengenal peserta
didik siapa yang hadir pun absen. Hal ini tentu berakibat pada sikap apatis
atau masa bodoh dalam diri peserta didik.
Selain itu,
faktor lain penyebab menurunnya minat belajar bahasa Inggris peserta didik
yakni metode penyampaian materi yang
kurang kreatif dan masih menggunakan pola lama. Sebagai guru bahasa Inggris
penulis seringkali menggunakan pola tersebut dalam penyampaian materi. Hal ini
dilakukan sebagai akumulasi faktor sebelumnya dimana ketiadaan motivasi, sikap
apatis dan minimnya sumber belajar serta kekurangan literasi peserta didik
menjadi deretan alasan klasik. Sebagai guru bahasa Inggris di pelosok, penulis
lebih banyak berkutat untuk memberikan pemahaman dan penguasaan bahasa
Indonesia. Mengapa demikian? Peserta didik masih dominan menggunakan bahasa ibu
dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, menjadi tugas bersama unsur pendidikan untuk bergandengan tangan mengatasi kemerosotan minat belajar peserta didik terhadap bahasa Inggris di tengah gempuran ilmu pengetahuan dan teknologi. Memberikan motivasi secara continue akan cukup membantu menyadarkan peserta didik dari tidur panjang. Mengingatkan peserta didik akan kemudahan era digital akan membantu mereka tidak bergantung pada guru dan memiliki ruang baca yang mumpuni lewat akses internet.
Comments
Post a Comment